Jumat, 15 Oktober 2010

Ketenangan Hidup Menurutku

Oleh ANJAR SARASWATI,
HIDUP ini seperti pergantian siang dan malam. Siang dengan ciri khasnya terang dan malam dengan ciri khasnya gelap. Orang yang mengetahui ilmunya, tentu tidak mempermasalahkan pergantian siang dan malam. Misalnya, ketika sudah tahu bahwa siang itu harus bekerja dan beraktivitas, maka ditunggulah siang. Karena tahu bahwa malam itu waktunya tidur, istirahat atau berusaha shalat tahajud, maka datangnya malam sangat dinantikan.

Memang, alangkah indahnya jika kita senantiasa mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang akan kita hadapi. Yang kasihan adalah orang yang tidak siap menghadapi siang ataupun malam. Misalnya, siang takut terkena tagihan dan malam takut tidak bisa tidur. Begitu pula dalam menghadapi hidup ini. Orang yang tidak tahu rumusnya, maka dia akan selalu tegang. Mempunyai uang takut hilang, tidak punya uang takut tidak bisa membeli apa-apa. Musim mutasi takut kehilangan jabatan, sudah punya jabatan takut dipindahkan lagi. Belum punya usaha takut tidak punya penghasilan, sudah punya usaha takut usahanya ambruk. Lantas, kapan bahagianya?

Sesungguhnya, setiap orang mendambakan ketenangan batin. Jika hati tenang, kita akan merasa lebih nyaman dalam melakukan berbagai macam aktivitas baik duniawi maupun ukhrowi. Sebenarnya, Allah SWT telah mengajarkan pada kita langkah nyata untuk mendapatkan ketenangan hati, yaitu dengan zikir. Sebagaimana firman-Nya, "Ingatlah dengan zikir mengingati Allah, hati akan tenteram." (QS Ar Ra'du: 28).

Dengan selalu mengingat Allah, hati akan tenteram. Sebaliknya, ketika kita jarang ingat pada Allah, hati akan kering dan gersang. Dengan kata lain, sejauh mana kita sungguh-sungguh ingin hidup tenteram, akan sangat terlihat dari berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk berzikir kepada Allah.

Orang-orang yang tertambat hatinya kepada Allah, apa pun yang ia lihat, ia dengar, dan ia rasakan, selalu dikorelasikan dengan Dzat Pencipta alam semesta ini. Seorang ahli zikir akan jatuh dalam damai yang mendalam ketika merenungi hakikat pertumbuhan hidup manusia sejak masih dalam rahim, kemudian lahir hingga saat ajal tiba. Ketika dalam rahim, janin manusia lemah tidak berdaya, namun semakin besar semakin kuat hingga sampai di puncak kekuatannya. Semakin tua kekuatan itu mulai pudar, hingga manusia seolah kembali ke tingkat kekuatan bayi yang lemah. Semua ini tidak terjadi melainkan karena kuasa Allah SWT. Semakin banyak mengingat Allah, maka kadar keimanan akan semakin bertambah. Ia tidak akan takut diancam oleh apa dan siapa pun makhluk yang ada di dunia ini. Ia hanya merasa takut akan ancaman dan murka Allah.

Orang yang telah mencapai derajat ini tidak pernah merasa waswas dalam bertindak. Tiap-tiap sesuatu yang dia hadapi dijadikan sebagai ladang amal. Bahkan dalam bertransaksi sekalipun ia akan memikirkan keuntungan bagi orang lain. Ia tidak khawatir dengan harga yang dipatok pedagang. Ia akan merasa bahagia jika mampu berbagi rezeki dengan orang lain. Ia sangat yakin bahwa yang mengatur rezeki adalah Allah dan ia akan berjuang sekuat tenaga agar rezeki itu jatuh ke tempat yang barakah. Ia tidak takut hartanya akan habis, sebab yakin bahwa Allah akan memberi kelapangan rezeki bagi siapa pun yang berhati murah dengan banyak berderma.

Tentu saja, berzikir harus senantiasa dilakukan setiap saat, sebab bila seseorang hanya mengingat Allah ketika salat saja, maka ia akan selalu gelisah di luar salat. Ada yang ingat Allah hanya ketika ia mendapat ancaman saja. Bahkan ada yang benar-benar tidak tahu siapa itu Allah selama hidupnya. Na'udzubillahi min dzalik. Orang yang tidak kenal Allah, sehebat apa pun ia, sebanyak apa pun harta yang dimilikinya, serat setinggi apa pun derajatnya di mata manusia, sungguh ia akan selalu dicekam gelisah.

Upaya untuk terus berzikir hendaknya diiringi dengan sabar dan syukur. Sebab kedua aspek tersebut dapat menghindarkan kita dari kebiasaan marah terhadap sesuatu yang telah mengecewakan hati. Padahal kemarahan yang kita luapkan bisa jadi karena tidak tercapainya keinginan atau harapan tinggi yang kita miliki. Semestinya, kita harus siap menerima kenyataan, bahwa hidup ini penuh risiko dan tidak selamanya sesuai dengan apa yang kita inginkan. Mengapa? Sebab ketika kita mempunyai rencana, maka Allah juga mempunyai rencana. Renungilah Al Quran surat Al Hadiid ayat 22-23. Wallahua'lam. ***

Tags: renungan
Prev: BAHAYA FAVORITISME
Next: MENGHINDARI SIFAT BURUK SANGKA
reply

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar